16 Jan 2017
Audrey Hepburn, Sang Legenda yang Menginspirasi
SHARE

Pernahkah kamu menonton film Breakfast in Tiffany’s ? Dalam film tersebut, ada satu sosok menarik yang sangat cantik dan memiliki gaya khas dan otentik. Tubuhnya yang mungil, matanya yang bulat, dan akting yang memukau. Ya, ia adalah Audrey Hepburn! Karena kepiawaiannya berakting, perempuan ini disebut oleh American Film Institute sebagai aktris terbaik ketiga sepanjang sejarah Hollywood disamping Katharine Hepburn dan Bette Davis.

Aktris yang memiliki nama asli Audrey Kathleen Ruston ini lahir di Brussels, Belgia, 4 Mei 1929. Namanya mulai dikenal ketika bermain film yang berjudul Roman Holiday pada tahun 1953, lalu Love in the Afternoon dan Funny Face di tahun 1957. Tapi, ia mulai melejit pesat saat mendapatkan peran sebagai Holly Golightly di film Breakfast in Tiffany’s tahun 1961. Dari situ, akting dan gaya Audrey mulai diikuti oleh para perempuan dan ia pun menjadi style icon yang masih jadi panutan hingga sekarang.

 

Tapi jangan salah, bukan hanya gaya dan kecantikannya yang membuat Hepburn patut dijuluki sebagai legenda! Ternyata, perempuan elegan ini juga punya hati yang sangat mulia. Sejak tahun 1950-an, ia telah aktif membantu UNICEF dan pergi ke Ethiopia pada tahun 1988 untuk misi kemanusiaan. Ia datang ke panti asuhan di Meke’le yang menampung kurang lebih 500 anak-anak yang kelaparan, dan membagi makanan. Ia memeluk anak-anak tersebut tanpa risih dan bersikap sok artis. Setelah itu, Hepburn juga pernah pergi ke Turki untuk kampanye tentang imunisasi, Honduras, El Savador, Guatemala, Sudan, Somalia, hingga Vietnam untuk bekerjasama dengan UNICEF membuat dunia yang lebih layak untuk ditempati. Bagi Hepburn, semua orang berhak mendapatkan tempat yang layak di dunia ini. “The ‘Third World’ is a term I don’t like very much, because we’re all one world. I want people to know that the largest part of humanity is suffering,” ujarnya.

 

 

Karena aksi kemanusiaannya itu, pada tahun 1992 aktris ini diberikan Medal of Freedom oleh George H. W. Bush yang waktu itu adalah presiden Amerika. Tak hanya itu, Hepburn juga menerima Jean Hersholt Humanitaria Award oleh Academy Motion Picture Arts and Science karena kontribusinya pada kemanusiaan. Hebat sekali, ya!

 

Di kehidupan sehari-harinya, Hepburn merupakan sosok yang rendah hati dan tidak berlebihan. Anaknya yang bernama Luca Dotti, menuturkan bahwa dirinya tak menyadari bahwa Sang Ibu adalah seorang artis yang sangat tenar. Dalam buku Audrey at Home, Luca bercerita bahwa ibunya adalah orang yang sederhana. Hepburn bukan tipe orang yang betah naik limousin, atau pergi pesta setiap malam. Dia lebih suka jalan-jalan dengan anjingnya di sekitar rumah. Kepribadian yang humble inilah yang membuat Hepburn makin dicintai oleh para penggemarnya.

4 bulan sebelum Hepburn meninggal dunia, ia masih berangkat ke Somalia untuk misi kemanusiaannya dengan UNICEF. Sepulang dari sana, ia merasa sakit pada perutnya. Setelah diperiksa, ternyata ada kanker di bagian ususnya dan kanker tersebut sudah menyebar. Akhirnya pada 20 Januari 1993, ia meninggal dunia dan dimakamkan di Tolochenaz, Vaud, Swiss. Audrey Hepburn mengakhiri hidupnya dengan memberi jejak yang menginspirasi kita semua, seperti kata-katanya, “The most important things is to enjoy your life, to be happy, it’s all that matters,”. Setuju?